Skip to content

Personal Development

( Pengembangan Diri Untuk Prestasi )

Bagi rekan – rekan yang mengambil kesuksesan di jalur akademis pastinya bergabung dalam sebuah perusahaan sebagai seorang karyawan. Namun, untuk sukses dalam karir perlu menunjukan prestasi kerja sehingga kita tidak hanya masuk dalam kategori karyawan dengan kinerja rata – rata. Untuk terlepas sebagai karyawan rata – rata dan beralih menjadi karyawan bintang tentunya harus meperhatikan hal – hal penting untuk pencapaian prestasi. Bicara hal penting tersebut, saya jadi teringat dengan buku yang berjudul The 7 Habits Of Highly Effective People karya Stephen R. Covey. Bahwa terdapat 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif untuk meraih kesuksesan termasuk prestasi kerja bagi kita yang mengambil jalan kesuksesan di jalur akademis. Namun, tidak banyak orang yang memelihara kebiasaan efektif tersebut untuk diimplementasikan.

Berkaitan dengan tulisan diatas, saya punya pengalaman pada saat saya menyampaikan materi training mengenai Perosonal Development untuk karyawan di salah satu perusahaan swasta. Pada training tersebut, menjelaskan bagaimana setiap orang perlu mengetahui potensi yang ada dalam dirinya termasuk passion. Kemudian memberdayakan potensi tersebut untuk mencapai visi hidupnya. ada 3 point penting yang menjadi garis besar pada materi tersebut.

Pertama, Pentingnya Memahami Potensi Diri Termasuk Passion.

Mungkin selama ini kita belum memahami siapa diri kita secara utuh dan objektif. Ketidak mampuan kita dalam menelisik siapa diri kita, potensi dan passion kita akan membawa arah hidup tidak terintegrasi dengan visi hidup. Apalagi, yang lebih parah ternyata tidak punya visi hidup. alhasil yang terjadi hanyalah memaknai aktivitas kita sehari – hari hanya sebagai rutinitas yang mengalir begitu saja. Jika demikian, wajar jika tidak mendaptkan sebuah prestasi.

Kedua, Mind Setting Achievement Behavior.

Apa yang dimaksud dengan prestasi ? Peserta training diam sejenak. Akhirnya saya kembali bertanya, jika nilai raport saya tidak ada nilai merah, apakah itu prestasi ? Peserta training sebagain menjawab ya, dan sebagian menjawab tidak. Artinya bahwa perlu kita pahami arti sebuah prestasi. Jika pengertian prestasi saja masih bingung, bagaimana kita bisa memperoleh prestasi tersebut. Prestasi adalah sebuah hasil kerja yang kita peroleh diatas batas standar. Jadi, jika seorang sales diberikan target menjual 10 unit produk / bulan dan di bulan pertama menjual 10 unit, dulan kedua 9 unit, bulan ketiga 10 unit, apakah sudah berprestasi ? ya, mungkin sekarang kita semua sudah satu jawaban. Jawabannya adalah bukan prestasi. dengan demikian, jika yang kita lakukan masih standar – standar saja, pastinya itu bukan prestasi, dan belum tentu juga hasil kerjanya buruk. Tapi kinerjanya adalah rata – rata.

Mungkin kita juga tahu bahwasanya pikiran mempengaruhi sebuah tindakan. Untuk orang yang ingin memiliki prestasi tentunya harus diikuti tindakan – tindakan prestatif pula. Nol besar yang akan didapatkan jika prestasi hanya sebuh keingin yang tidak ditindaklanjuti dengan sebuh tindakan. Lalu, bagaimana untuk menghasilkan tindakan prestatif ? Mulailah dengan Mindset. Pikiran adalah intrumen yang sangat penting pada diri kita. Melalui pikiran akan bertransformasi menjadi sebuh perasaan, dan perasaan itulah yang akan menjadikan tindakan untuk diri kita. Berikut analogi yang bisa saya sampaikan jika kita ingin PDKT (pendekatan) dengan gadis cantik yang ada dilingkungan kita. Bagaimana jika mindset gagal yang ada dalam pikiran kita ? Pasti kita akan bicara “nanti klo saya deketein gadis itu, bisa diledekin sama temen – temen”, “nanti klo saya deketin gadis itu, saya bisa disorakin sama orang sekantor”, “nanti klo saya deketin gadis itu bisa ditangkap satpam kantor”, dan sebagainya. Itulah yang akan muncul jika dalam pikiran kita memelihara kegagalan. Pastinya minset gagal tersebut akan berubah menjadi perasaan yang penakut, dan pastinya tidak akan berujung pada sebuah tindakan kongkret untuk deketin gadis tersebut. Oleh karena itulah, pelihara mindset kita dengan hal positif dan proaktif sehingga dapat berubah menjadi tindakan dan prilaku yang prestatif.

Ketiga, Goal Setting (Visi Hidup)

Goal setting yang dimaksud bisa dalam lingkup personal (pribadi) ataupun dalam dimensi karir. Namun, pertama – tama tentu kita harus mengetahui visi hidup dalam lingkup pribadi dulu. Mengapa demikian ? Karena visi hidup akan sangat menentukan dimana dan sebagai apa kita berkarir. Namun, banyak permasalah bagi rekan – rekan kita yang belum memiliki visi hidup. Dan akhirnya, kita harus sama – sama memperhatika visi hidup kita. Ternyata visi hidup pun tidak hanya sebgatas tujuan yang bersifat imajinatif, abstrak, dan terkesan hanya mengawang – awang. Dalam menentukan visi hidup, maka sebagainya menentukan visi hidup sesuai dengan passion yang jelas, terukur, dan sistematis. Agar tujuan yang kita buat memenuhi syarat kualitas maka sebaiknya menggunakan prinsip SMART Goal Setting (Specific, Measurable, Achievable, Realistic, dan Timly). Dengan visi hidup yang jelas, maka kita semua akan termotivasi dan menggunakan langkah kita sehari – hari sebagai asset untuk mencapai visi hidup tersebut.

Goal setting atau mungkin saya sebut juga dengan sasaran atau visi, dapat diterapkan juga pada team kerja kita di kantor. Karena ternyata ada beberapa jenis karakteristik team dalam perusahaan. Karakteristis tersebut, dibagi menjadi 4 kuadran dengan meperhatikan Cinta dan Visi nya. Cinta yang dimaksud adalah bahwa anggota team saling respect, hubungannya baik, menyenangkan. Sedangkan Visi yang dimaksud adalah sasaran atau tujuan (goals) yang jelas yang harus dicapai oleh team tersebut. adapun kudran tersebut adalah sebagai berikut :

Pertama, Memiliki Cinta – Memiliki Visi

Pada kuadran ini adalah kondisi ideal dalam sebuah team. Dimana anggota team memiliki keselarasan antara aspek hubungan dan apsek tugas yang beroietasi pada pencapaian tujuan. Pada kuadran ini, anggota team akan berkembang menjadi individu yang prestatif.

Kedua, Memiliki Cinta – Tdk Memiliki Visi

Pada kuadran ini menggambarkan bahwa yang lebih dominan hanyalah aspek hubungan tetapi tujuan dan sasarannya tidak jelas. Pada kuadran ini, akan membuat anggota team tidak nyaman bagi mereka yang memiliki visi dan keinginan untuk berkembang. Yang perlu dilakukan bagi kita yang sudah mengetahui bagaimana menyusun SMART Goal Setting adalah mengerahkan anggota team lainnya agar memiliki vis yang harus dicapai sebagai sebuah team. Jadilah Agent Of Change dalam team anda.

Ketiga, memiliki visi tapi tidak punya cinta

Pada kuadran ini menggambarkan team yang kaku dan beroirientasi pada tugas yang dan minimnya memperhatikan aspek hubungan. Bagi anggota team yang tidak biasa dengan hubungan yang tidak terjalin pasti akan merasa tidak betah. Pada kuadra inipuntentunya memiliki “PR” untuk dirubah agar sampai pada kuadran ideal.

Keempat, Tidak memiliki visi – tidak memiliki cinta

Pada kuadra ini menggambarkan kondisi team yang kacau. Tidak adanya cinta dan visi yang jelas pada team ini. Bagi banyak karyawan lain mungkin akan menganggap tempat tersebut adalah “neraka”, kursi panas, dan lain sebagainya sebagai gambaran tempat yang sangat amat tidak nyaman.

Tiga poin diatas merupakan garis besar dalam training yang saya sampaikan dalam Personal Development. oleh karena itu, dimanapun kita berada pastikan ada target yang harus dicapai sesuai dengan pencapaian visi hidup. Dengan demikian kita akan menikmati langkah – langkahnya sebagai asset masa depan. Jadi, pikirkanlah visi hidup anda , berdayakan potensi untuk mencapai visi hidup yang jelas, terukur, menantang dan berkualitas.

“Segala sesutu yang hidup pasti berkembang, jika anda tidak berkembang berarti anda tidak hidup”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *